Social Items

Loading...

Perlahan tapi pasti, ungkapan tersebut menggambarkan kinerja pihak kepolisian menyelidiki uang Rp 1,6 M milik Pemprov Sumut.
Misteri raibnya uang senilai Rp 1,6 M di parkiran Kantor Gubernur Sumatera Utara, Jalan Diponegoro, Senin (9/9/2019) lalu, mulai menemui titik terang.
Diketahui, sebelumnya hilangnya uang yang nilainya mencapai miliaran rupiah itu, usai seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemprov Sumut, M Aldi Budianto (40) bersama rekannnya yang merupakan PHL di biro perbekalan kantor tersebut, Indrawan Ginting (36) mengambil uang dari Bank Sumut yang berada di Jalan Imam Bonjol, Senin (9/9) lalu.
Kemudian mereka berdua inipun membawa uang tersebut dengan meletakkannya di bagian belakang mobil.
Namun setibanya di halaman parkir kantor Pemprovsu yang berada di Jalan Pangeran Diponegoro Kota Medan, keduanya pun meninggalkan mobil untuk salat Ashar di masjid yang ada di dalam komplek perkantoran pemerintahan Provinsi Sumatera Utara itu.
Sehabis salat, keduanya terkejut ketika kunci remot mobil sudah tidak berfungsi lagi saat membuka pintu mobil tersebut.
Ternyata, lubang kunci mobil telah rusak, setelah dicek pintu mobil bisa terbuka.
Tak pelak, peristiwa itupun langsung menghebohkan sejumlah pegawai dan pejabat di Kantor Pemprovsu.
Lantas, kejadian itu dilaporkan ke Polrestabes Medan.
Petugas langsung turun melakukan olah TKP dan mengamankan mobil untuk dibawa ke Polrestabes Medan.
Informasi yang berhasil dihimpun, dari hasil penyelidikan selama sepekan itu Tim Sat Reskrim Polrestabes Medan berhasil mengantongi identitas para pelaku yang diduga membawa kabur uang rakyat tersebut.
Hal tersebut disampaikan Kasat Reskrim Polrestabes Medan, AKBP Putu Yudha Prawira, Selasa (17/9/2019), saat ditemui di ruang kerjanya.
Polisi berpangkat melati dua di pundaknya ini membenarkan telah mendapatkan dan mengetahui identitas para pelaku.
Namun pihaknya belum berkomentar lebih jauh terkait siapa sosok pelaku pencurian uang Rp 1,6 miliar tersebut.
"Terkait pelaku masih dalam proses.
Nanti akan kita sampaikan perkembangannya. mohon doanya," ungkapnya.
Sekda Tunggu Kerja Aparat Penegak Hukum
Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sumatra Utara, Sabrina mengatakan, masih menunggu hasil pemeriksaan yang dilakukan Aparat Penegak Hukum (APH) terhadap para saksi terkait raibnya uang senilai Rp 1,6 miliar milik Pemprov Sumut.
Wanita berhijab ini belum mau menyalahkan siapapun dalam peristiwa raibnya uang milik Pemprov untuk memberikan gaji kepada honorer TAPD.
"Kita tunggu APH untuk bekerja dulu.
Entah siapa yang salah di sini kita gak tau," kata Sabrina, saat ditemui di Kantor Gubernur, Jalan Pangeran Diponegoro, Kota Medan, Selasa (17/9/2019).
Sabrina membenarkan bahwa uang tersebut digunakan untuk menggaji 117 tenaga honorer yang bekerja sebagai Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD).
Ratusan tenaga honorer itu, kata dia bekerja dibeberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Sabrina mengatakan, ada lima kegiatan dikerjakan oleh honorer yang kemudian dibayarkan dengan cara tunai.
"117 orang digaji untuk lima kegiatan.
Tim sesuai dengan kegiatan akan dibayarkan setiap bulan itu dibayarkan," ujarnya.
Dilakukannya penarikan dengan cara tunai, Sabrina mengatakan, saat ini masih ada OPD yang belum memberikan gaji dengan cara sistem transfer antar rekening bank.
Dirinya menyebutkan, pembayaran gaji pada kegiatan masih diperbolehkan dengan cara tunai.
"Jadi masih ada OPD yang belum menerapkan sistem transfer.
Masih diperbolehkan dengan cara tunai," kata dia.
Sabrina berharap aparat kepolisian dapat mengungkap kasus yang menimpah pemerintah Sumut terkait hilangnya uang senilai Rp 1,6 miliar.
"Masih menunggu dari kepolisian dulu ini," ucapnya.
Selanjutnya, Sabrina juga melontarkan lelucon kepada awak media ikut mendoakan agar uang tersebut bisa ditemukan.
"Kalian doakan kalau dapat, biar bisa kita makan-makan," ujarnya.
Sebelumnya Gubernur Sumut Edy Rahmayadi mengatakan pihaknya sudah melakukan pemeriksaan internal melalui Inspektorat Sumut. Ia meminta untuk segera mencari keberadaan uang tersebut.
"Cari itu sampai kemanapun," ujar Edy.
Publik menilai ada yang aneh dalam kasus hilangnya uang milik Pemprov Sumut Rp 1,6 miliar dari dalam mobil yang terparkir di pelataran parkir Kantor Gubernur Sumut, Jalan Diponegoro Medan, Senin (9/9/2019).
Sebagian orang bertanya mengapa uang sebanyak itu ditarik tunai.
Sebagaimana dalam pengelolaan keuangan pemerintahan saat ini, umumnya pembayaran untuk hal apapun sudah lewat sistem online.
Selain melakukan pemeriksaan internal atas kasus hilangnya uang milik Pemprov Sumut Rp 1,6 miliar, Pemprov Sumut juga mempercayakan pengusutan melalui Kepolisian.
"Kita sama-sama. Kita cari, sudah ada tanda-tanda kita temukan, nanti kita buktikan apa sebenarnya yang terjadi," ujar Edy.
Namun sayangnya, Edy tidak menjelaskan lebih rinci seperti apa tanda-tanda yang ditemukan itu.

MULAI TERBONGKAR Para Pelaku Pencuri Uang Rp 1,6 M Milik Pemprov Sumut, Ini Penjelasan Kasatreskrim

Newsral.com

Perlahan tapi pasti, ungkapan tersebut menggambarkan kinerja pihak kepolisian menyelidiki uang Rp 1,6 M milik Pemprov Sumut.
Misteri raibnya uang senilai Rp 1,6 M di parkiran Kantor Gubernur Sumatera Utara, Jalan Diponegoro, Senin (9/9/2019) lalu, mulai menemui titik terang.
Diketahui, sebelumnya hilangnya uang yang nilainya mencapai miliaran rupiah itu, usai seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemprov Sumut, M Aldi Budianto (40) bersama rekannnya yang merupakan PHL di biro perbekalan kantor tersebut, Indrawan Ginting (36) mengambil uang dari Bank Sumut yang berada di Jalan Imam Bonjol, Senin (9/9) lalu.
Kemudian mereka berdua inipun membawa uang tersebut dengan meletakkannya di bagian belakang mobil.
Namun setibanya di halaman parkir kantor Pemprovsu yang berada di Jalan Pangeran Diponegoro Kota Medan, keduanya pun meninggalkan mobil untuk salat Ashar di masjid yang ada di dalam komplek perkantoran pemerintahan Provinsi Sumatera Utara itu.
Sehabis salat, keduanya terkejut ketika kunci remot mobil sudah tidak berfungsi lagi saat membuka pintu mobil tersebut.
Ternyata, lubang kunci mobil telah rusak, setelah dicek pintu mobil bisa terbuka.
Tak pelak, peristiwa itupun langsung menghebohkan sejumlah pegawai dan pejabat di Kantor Pemprovsu.
Lantas, kejadian itu dilaporkan ke Polrestabes Medan.
Petugas langsung turun melakukan olah TKP dan mengamankan mobil untuk dibawa ke Polrestabes Medan.
Informasi yang berhasil dihimpun, dari hasil penyelidikan selama sepekan itu Tim Sat Reskrim Polrestabes Medan berhasil mengantongi identitas para pelaku yang diduga membawa kabur uang rakyat tersebut.
Hal tersebut disampaikan Kasat Reskrim Polrestabes Medan, AKBP Putu Yudha Prawira, Selasa (17/9/2019), saat ditemui di ruang kerjanya.
Polisi berpangkat melati dua di pundaknya ini membenarkan telah mendapatkan dan mengetahui identitas para pelaku.
Namun pihaknya belum berkomentar lebih jauh terkait siapa sosok pelaku pencurian uang Rp 1,6 miliar tersebut.
"Terkait pelaku masih dalam proses.
Nanti akan kita sampaikan perkembangannya. mohon doanya," ungkapnya.
Sekda Tunggu Kerja Aparat Penegak Hukum
Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sumatra Utara, Sabrina mengatakan, masih menunggu hasil pemeriksaan yang dilakukan Aparat Penegak Hukum (APH) terhadap para saksi terkait raibnya uang senilai Rp 1,6 miliar milik Pemprov Sumut.
Wanita berhijab ini belum mau menyalahkan siapapun dalam peristiwa raibnya uang milik Pemprov untuk memberikan gaji kepada honorer TAPD.
"Kita tunggu APH untuk bekerja dulu.
Entah siapa yang salah di sini kita gak tau," kata Sabrina, saat ditemui di Kantor Gubernur, Jalan Pangeran Diponegoro, Kota Medan, Selasa (17/9/2019).
Sabrina membenarkan bahwa uang tersebut digunakan untuk menggaji 117 tenaga honorer yang bekerja sebagai Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD).
Ratusan tenaga honorer itu, kata dia bekerja dibeberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Sabrina mengatakan, ada lima kegiatan dikerjakan oleh honorer yang kemudian dibayarkan dengan cara tunai.
"117 orang digaji untuk lima kegiatan.
Tim sesuai dengan kegiatan akan dibayarkan setiap bulan itu dibayarkan," ujarnya.
Dilakukannya penarikan dengan cara tunai, Sabrina mengatakan, saat ini masih ada OPD yang belum memberikan gaji dengan cara sistem transfer antar rekening bank.
Dirinya menyebutkan, pembayaran gaji pada kegiatan masih diperbolehkan dengan cara tunai.
"Jadi masih ada OPD yang belum menerapkan sistem transfer.
Masih diperbolehkan dengan cara tunai," kata dia.
Sabrina berharap aparat kepolisian dapat mengungkap kasus yang menimpah pemerintah Sumut terkait hilangnya uang senilai Rp 1,6 miliar.
"Masih menunggu dari kepolisian dulu ini," ucapnya.
Selanjutnya, Sabrina juga melontarkan lelucon kepada awak media ikut mendoakan agar uang tersebut bisa ditemukan.
"Kalian doakan kalau dapat, biar bisa kita makan-makan," ujarnya.
Sebelumnya Gubernur Sumut Edy Rahmayadi mengatakan pihaknya sudah melakukan pemeriksaan internal melalui Inspektorat Sumut. Ia meminta untuk segera mencari keberadaan uang tersebut.
"Cari itu sampai kemanapun," ujar Edy.
Publik menilai ada yang aneh dalam kasus hilangnya uang milik Pemprov Sumut Rp 1,6 miliar dari dalam mobil yang terparkir di pelataran parkir Kantor Gubernur Sumut, Jalan Diponegoro Medan, Senin (9/9/2019).
Sebagian orang bertanya mengapa uang sebanyak itu ditarik tunai.
Sebagaimana dalam pengelolaan keuangan pemerintahan saat ini, umumnya pembayaran untuk hal apapun sudah lewat sistem online.
Selain melakukan pemeriksaan internal atas kasus hilangnya uang milik Pemprov Sumut Rp 1,6 miliar, Pemprov Sumut juga mempercayakan pengusutan melalui Kepolisian.
"Kita sama-sama. Kita cari, sudah ada tanda-tanda kita temukan, nanti kita buktikan apa sebenarnya yang terjadi," ujar Edy.
Namun sayangnya, Edy tidak menjelaskan lebih rinci seperti apa tanda-tanda yang ditemukan itu.