Social Items

Loading...
                           Foto Suara.com/Ema Rohimah]
BJ Habibie tutup usia, presiden yang berselancar di tengah krisis itu wafat. Para pembesar, politikus, ilmuwan, hingga selebritas bersedih. Sementara Saudi bertakzim, dukacitanya mendalam. Dia penggali kubur Mr Crack.
TELEFON GENGGAM milik Saudi tiba-tiba bergetar tak lama selepas azan Magrib berkumandang dari pelantang suara Musala Al Maghfiroh, dekat rumahnya di Condet, Jakarta Timur.
Saudi segera memeriksa ponsel, dan mendapatkan pesan penting yang disebar bosnya, Dedi—Kepala Seksi Pemakaman Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata.
“Segera siapkan penggalian,” perintah Dedi lewat grup WhatsApp yangberisikan para petugas penggali kubur TMPNU Kalibata.
Perintah Dedi membuat kaget lelaki berusia 27 tahun itu. Sebab, menjelang Magrib, Rabu 11 September 2019, Saudi baru saja pulang dari seharian bekerja di TMPNU Kalibata.
Ia tak menyoal perintah itu. Sebab, sebagai penggali kubur di taman makam pahlawan, Saudi harus selalu siap ketika menerima tugas kapan pun.
Yang jadi persoalan bagi Saudi adalah, siapa pembesar yang meninggal?
Suadi tak terbiasa menyalakan televisi ketika tiba waktu Magrib. Bagi Saudi, Magrib adalah waktu yang sakral, dan satu-satunya yang harus dilakukan adalah mengambil air wudu dan salat.
Namun, kali ini Saudi membuat pengecualian. Dia bergegas mengambil remote untuk menyalakan televisi di rumahnya.
Tak hanya Saudi yang menghadap layar, tapi juga istrinya, Dewi, dan kedua putrinya yakni Tata (8) serta Caca (5).
Ketika televisi menyala, pemberitaan di seluruh stasiun televisi nasional senapas: Bacharuddin Jusuf Habibie, Presiden ke-3 RI, baru saja wafat, pukul 18.03 WIB.
Saudi tak berlama-lama duduk di depan televisi. Ibadah harus segera dituntaskan, ia bergegas mengambil wudu dan salat Magrib.
Setelahnya, Suadi bersiap, memakai kembali seragam kerjanya. Dia sebenarnya masih lelah karena baru saja tiba dari perjalanan sepulang kerja. Tapi ia tetap ingin pergi kembali untuk bekerja menggali kubur.
Bukan saja karena pesan si bos, melainkan ia dan juga putrinya sedikit banyak pernah bersua BJ Habibie, dan menyimpan kenangan pertemuan tersebut pada sebuah foto.
“Ayah mau nyiapin makam buat Eyang Habibie ya?” tanya Tata putri pertama Saudi yang juga menyaksikan kabar duka lewat televisi.
“Iya, kamu tunggu di rumah aja nak,” ucap Saudi.
“Ayah, foto adek sama eyang dulu di Kalibata itu mana ya?” Tata kembali bertanya.
“Iya nanti dicari ya nak, semoga ketemu,” ucap Saudi coba menenangkan anaknya.
JUMAT SORE di penghabisan tahun 2016, BJ Habibie berdiri di depan monumen taman makam pahlawan Kalibata.
Dia sedikit membungkukkan bahunya, sebagai bentuk penghormatan bagi para pahlawan yang dimakamkan di sana.
Dari kejauhan, Saudi, petugas keamanan kompeks makam pahlawan Kalibata, menatap lekat-lekat sosok tua itu.
Saudi sudah tahu ritual kebiasaan BJ Habibie ketika datang, selama berziarah, dan saat hendak pulang dari TMP Kalibata.
Salah satunya membungkukkan badan untuk penghormatan, yang selalu dilakukan Habibie saat datang maupun pulang seusai berziarah ke pusara istrinya, Ainun.
Setiap Habibie berziarah, Saudi juga selalu siaga. Habibie rutin datang berziarah setiap hari Jumat. Saudi menghapal kebiasaan Habibie itu.
Presiden ke-3 RI B.J. Habibie ketika berziarah ke makam istrinya, Hasri Ainun Habibie, di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. [Antara Foto/Rivan Awal Lingga]
Presiden ke-3 RI B.J. Habibie ketika berziarah ke makam istrinya, Hasri Ainun Habibie, di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. [Antara Foto/Rivan Awal Lingga]
Karenanya, pada hari Jumat itu, Saudi sengaja membawa kedua putrinya yang masih kecil-kecil, Tata dan Caca.
Saudi seperti orang-orang yang tumbuh besar pada era Orde Baru, selalu diminta ayah maupun ibu untuk tekun belajar agar bisa sepintar Habibie.
Ketika Saudi sudah memunyai anak, semangat itu masih terwariskan. Dia ingin kedua putrinya bisa menjadi seperti Habibie.
Saat kesempatan bertemu Habibie datang, Saudi ingin Tata dan Caca bisa berfoto dengan sosok yang dianggap jenius itu.
Setelah BJ Habibie memberikan salam penghormatan dan ingin pulang, Saudi memberanikan diri menemui Paspampres.
“Izin pak, anak saya ingin minta foto bareng Eyang Habibie, apa boleh?” kata Saudi.
“Saya bilang ke bapak dulu ya,” kata paspampres.
Paspampres itu lantas mendekati Habibie, sedikit menundukkan kepala, ia menyampaikan permintaan Saudi.
Seusai mendapat bisikan dari Paspampres, Habibie tersenyum. Ia lantas menatap Saudi dan kedua putrinya.
“Sini nak, sama eyang,” kata Habibie kepada Tata dan Caca.
Tata dan Caca langsung dirangkul Habibie. Mereka lantas foto bersama. Sebenarnya, Tata dan Caca tak betul-betul mengenal sosok yang dipanggil eyang itu.
Barulah ketika Tata dan Caca pulang ke rumah, sang ayah menjelaskan sosok yang foto bersama mereka merupakan Presiden ketiga RI dan orang jenius.
Sejak itu pula, Tata yang saat ini duduk di bangku kelas 2 SD selalu mengingat momen foto bersama mereka tatkala melihat BJ Habibie di televisi. Foto itu kekinian hilang.
***
MAGRIB BARU BERLALU ketika Saudi menunggangi kuda besinya keluar dari rumah menuju TMP Kalibata, Jakarta Selatan. Dalam benaknya, Saudi masih tak menyangka tokoh yang pemurah senyum itu sudah tiada.
Saudi tiba di TMP Kalibata sekitar pukul 19.00 WIB. Foto-foto BJ Habibie sudah ditampilkan pada reklame video persis di depan kompleks makam.
Ucapan belasungkawa atas meninggalnya Presiden ketiga RI itu juga terpampang dalam layar besar tersebut. Saudi akhirnya benar-benar yakin, BJ Habibie sudah wafat.
Saudi memarkirkan kuda besinya, lantas bergegas menemui beberapa rekan penggali kubur. Saudi dan rekannya diarahkan menuju area Blok M kaveling nomor 120.
Mereka diminta menggali liang lahad di petak itu, yang persis terletak di sebelah pusara Hasri Ainun Besari atau Ainun Habibie di kaveling  121.
Bersama sembilan rekan penggali kubur lain, Saudi menyangkul tanah. Empat buah lampu tembak disediakan oleh tim teknis TMPNU Kalibata untuk mebantu penerangan mereka.
Saudi bersama sembilan rekannya secara bergantian memulai penggalian untuk rumah peristirahatan terakhir berukuran  1x2 meter serta berkedalaman 180 sentimeter untuk BJ Habibie.
Dengan menggunakan perkakas seperti cangkul, susur, dan blencong, proses penggalian selesai dalam kurung waktu sekitar tiga jam.
Keesokan hari, upacara pemakaman kenegaraan secara militer sebagai penghormatan terakhir kepada BJ Habibie digelar pukul 14.00 WIB. Presiden Jokowi memimpin langsung prosesi.
Dari rumah duka, jenazah BJ Habibie dibawa memakai ambulans yang berjalan lambat-lambat melalui Jalan HR Rasuna Said, Jalan Jenderal Gatot Soebroto, Jalan Raya Pasar Minggu, hingga Jalan Raya Kalibata.
Setelah tiba di TMPN Kalibata, peti jenazah ditandu oleh sejumlah anggota TNI dari terus ke halaman TMPN Kalibata menuju area liang lahad.
Sejumlah mantan kepala negara dan pejabat juga hadir pada acara tersebut antara lain Presiden Ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, dan Presiden Ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono.
Ada juga mantan wakil presiden Try Sutrisno, mantan wakil presiden Hamzah Haz, mantan wakil presiden Boediono, dan istri Presiden Ke-4 RI Abdurahman Wahid, Sinta Nuriyah Wahid.
[Suara.com/Ema Rohimah]
Foto Suara.com
“Bapak adalah simbol dari sosok cinta, bagaimana ia sangat mencintai keluarga, mencintai istri, mencintai pekerjaan dan sangat mencintai bangsa ini, bahkan dunia," kata Ilham Habibie, putra BJ Habibie saat pidato pemakaman.
Tak jauh dari barisan para pembesar, sekitar 20 meter, Saudi dan sejumlah penggali kubur diam berkhidmat di bawah pohon.
Saudi pernah merasakan kehusyukan yang sama, beberapa bulan sebelumnya, tatkala ia menjadi penggali kubur mendiang Ani Yudhoyono.
Suasana khidmat prosesi pemakaman itu membuat Saudi keras berpikir tentang foto kedua putrinya bersama BJ Habibie yang hilang. Baginya, kenang-kenangan itu tak boleh hilang.
“Saya lagi nyari foto anak saya sama Eyang Habibie. Sebelum saya gali makam almarhum, anak saya yang pertama sempat nanyain foto sama eyang mana? Ini lagi saya cari, mau dicetak buat kenang-kenangan mereka,” kata Saudi seusai pemakaman.

Sumber : suara.com

Foto yang Hilang, Cerita Penggali Kubur BJ Habibie

Newsral.com
                           Foto Suara.com/Ema Rohimah]
BJ Habibie tutup usia, presiden yang berselancar di tengah krisis itu wafat. Para pembesar, politikus, ilmuwan, hingga selebritas bersedih. Sementara Saudi bertakzim, dukacitanya mendalam. Dia penggali kubur Mr Crack.
TELEFON GENGGAM milik Saudi tiba-tiba bergetar tak lama selepas azan Magrib berkumandang dari pelantang suara Musala Al Maghfiroh, dekat rumahnya di Condet, Jakarta Timur.
Saudi segera memeriksa ponsel, dan mendapatkan pesan penting yang disebar bosnya, Dedi—Kepala Seksi Pemakaman Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata.
“Segera siapkan penggalian,” perintah Dedi lewat grup WhatsApp yangberisikan para petugas penggali kubur TMPNU Kalibata.
Perintah Dedi membuat kaget lelaki berusia 27 tahun itu. Sebab, menjelang Magrib, Rabu 11 September 2019, Saudi baru saja pulang dari seharian bekerja di TMPNU Kalibata.
Ia tak menyoal perintah itu. Sebab, sebagai penggali kubur di taman makam pahlawan, Saudi harus selalu siap ketika menerima tugas kapan pun.
Yang jadi persoalan bagi Saudi adalah, siapa pembesar yang meninggal?
Suadi tak terbiasa menyalakan televisi ketika tiba waktu Magrib. Bagi Saudi, Magrib adalah waktu yang sakral, dan satu-satunya yang harus dilakukan adalah mengambil air wudu dan salat.
Namun, kali ini Saudi membuat pengecualian. Dia bergegas mengambil remote untuk menyalakan televisi di rumahnya.
Tak hanya Saudi yang menghadap layar, tapi juga istrinya, Dewi, dan kedua putrinya yakni Tata (8) serta Caca (5).
Ketika televisi menyala, pemberitaan di seluruh stasiun televisi nasional senapas: Bacharuddin Jusuf Habibie, Presiden ke-3 RI, baru saja wafat, pukul 18.03 WIB.
Saudi tak berlama-lama duduk di depan televisi. Ibadah harus segera dituntaskan, ia bergegas mengambil wudu dan salat Magrib.
Setelahnya, Suadi bersiap, memakai kembali seragam kerjanya. Dia sebenarnya masih lelah karena baru saja tiba dari perjalanan sepulang kerja. Tapi ia tetap ingin pergi kembali untuk bekerja menggali kubur.
Bukan saja karena pesan si bos, melainkan ia dan juga putrinya sedikit banyak pernah bersua BJ Habibie, dan menyimpan kenangan pertemuan tersebut pada sebuah foto.
“Ayah mau nyiapin makam buat Eyang Habibie ya?” tanya Tata putri pertama Saudi yang juga menyaksikan kabar duka lewat televisi.
“Iya, kamu tunggu di rumah aja nak,” ucap Saudi.
“Ayah, foto adek sama eyang dulu di Kalibata itu mana ya?” Tata kembali bertanya.
“Iya nanti dicari ya nak, semoga ketemu,” ucap Saudi coba menenangkan anaknya.
JUMAT SORE di penghabisan tahun 2016, BJ Habibie berdiri di depan monumen taman makam pahlawan Kalibata.
Dia sedikit membungkukkan bahunya, sebagai bentuk penghormatan bagi para pahlawan yang dimakamkan di sana.
Dari kejauhan, Saudi, petugas keamanan kompeks makam pahlawan Kalibata, menatap lekat-lekat sosok tua itu.
Saudi sudah tahu ritual kebiasaan BJ Habibie ketika datang, selama berziarah, dan saat hendak pulang dari TMP Kalibata.
Salah satunya membungkukkan badan untuk penghormatan, yang selalu dilakukan Habibie saat datang maupun pulang seusai berziarah ke pusara istrinya, Ainun.
Setiap Habibie berziarah, Saudi juga selalu siaga. Habibie rutin datang berziarah setiap hari Jumat. Saudi menghapal kebiasaan Habibie itu.
Presiden ke-3 RI B.J. Habibie ketika berziarah ke makam istrinya, Hasri Ainun Habibie, di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. [Antara Foto/Rivan Awal Lingga]
Presiden ke-3 RI B.J. Habibie ketika berziarah ke makam istrinya, Hasri Ainun Habibie, di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. [Antara Foto/Rivan Awal Lingga]
Karenanya, pada hari Jumat itu, Saudi sengaja membawa kedua putrinya yang masih kecil-kecil, Tata dan Caca.
Saudi seperti orang-orang yang tumbuh besar pada era Orde Baru, selalu diminta ayah maupun ibu untuk tekun belajar agar bisa sepintar Habibie.
Ketika Saudi sudah memunyai anak, semangat itu masih terwariskan. Dia ingin kedua putrinya bisa menjadi seperti Habibie.
Saat kesempatan bertemu Habibie datang, Saudi ingin Tata dan Caca bisa berfoto dengan sosok yang dianggap jenius itu.
Setelah BJ Habibie memberikan salam penghormatan dan ingin pulang, Saudi memberanikan diri menemui Paspampres.
“Izin pak, anak saya ingin minta foto bareng Eyang Habibie, apa boleh?” kata Saudi.
“Saya bilang ke bapak dulu ya,” kata paspampres.
Paspampres itu lantas mendekati Habibie, sedikit menundukkan kepala, ia menyampaikan permintaan Saudi.
Seusai mendapat bisikan dari Paspampres, Habibie tersenyum. Ia lantas menatap Saudi dan kedua putrinya.
“Sini nak, sama eyang,” kata Habibie kepada Tata dan Caca.
Tata dan Caca langsung dirangkul Habibie. Mereka lantas foto bersama. Sebenarnya, Tata dan Caca tak betul-betul mengenal sosok yang dipanggil eyang itu.
Barulah ketika Tata dan Caca pulang ke rumah, sang ayah menjelaskan sosok yang foto bersama mereka merupakan Presiden ketiga RI dan orang jenius.
Sejak itu pula, Tata yang saat ini duduk di bangku kelas 2 SD selalu mengingat momen foto bersama mereka tatkala melihat BJ Habibie di televisi. Foto itu kekinian hilang.
***
MAGRIB BARU BERLALU ketika Saudi menunggangi kuda besinya keluar dari rumah menuju TMP Kalibata, Jakarta Selatan. Dalam benaknya, Saudi masih tak menyangka tokoh yang pemurah senyum itu sudah tiada.
Saudi tiba di TMP Kalibata sekitar pukul 19.00 WIB. Foto-foto BJ Habibie sudah ditampilkan pada reklame video persis di depan kompleks makam.
Ucapan belasungkawa atas meninggalnya Presiden ketiga RI itu juga terpampang dalam layar besar tersebut. Saudi akhirnya benar-benar yakin, BJ Habibie sudah wafat.
Saudi memarkirkan kuda besinya, lantas bergegas menemui beberapa rekan penggali kubur. Saudi dan rekannya diarahkan menuju area Blok M kaveling nomor 120.
Mereka diminta menggali liang lahad di petak itu, yang persis terletak di sebelah pusara Hasri Ainun Besari atau Ainun Habibie di kaveling  121.
Bersama sembilan rekan penggali kubur lain, Saudi menyangkul tanah. Empat buah lampu tembak disediakan oleh tim teknis TMPNU Kalibata untuk mebantu penerangan mereka.
Saudi bersama sembilan rekannya secara bergantian memulai penggalian untuk rumah peristirahatan terakhir berukuran  1x2 meter serta berkedalaman 180 sentimeter untuk BJ Habibie.
Dengan menggunakan perkakas seperti cangkul, susur, dan blencong, proses penggalian selesai dalam kurung waktu sekitar tiga jam.
Keesokan hari, upacara pemakaman kenegaraan secara militer sebagai penghormatan terakhir kepada BJ Habibie digelar pukul 14.00 WIB. Presiden Jokowi memimpin langsung prosesi.
Dari rumah duka, jenazah BJ Habibie dibawa memakai ambulans yang berjalan lambat-lambat melalui Jalan HR Rasuna Said, Jalan Jenderal Gatot Soebroto, Jalan Raya Pasar Minggu, hingga Jalan Raya Kalibata.
Setelah tiba di TMPN Kalibata, peti jenazah ditandu oleh sejumlah anggota TNI dari terus ke halaman TMPN Kalibata menuju area liang lahad.
Sejumlah mantan kepala negara dan pejabat juga hadir pada acara tersebut antara lain Presiden Ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, dan Presiden Ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono.
Ada juga mantan wakil presiden Try Sutrisno, mantan wakil presiden Hamzah Haz, mantan wakil presiden Boediono, dan istri Presiden Ke-4 RI Abdurahman Wahid, Sinta Nuriyah Wahid.
[Suara.com/Ema Rohimah]
Foto Suara.com
“Bapak adalah simbol dari sosok cinta, bagaimana ia sangat mencintai keluarga, mencintai istri, mencintai pekerjaan dan sangat mencintai bangsa ini, bahkan dunia," kata Ilham Habibie, putra BJ Habibie saat pidato pemakaman.
Tak jauh dari barisan para pembesar, sekitar 20 meter, Saudi dan sejumlah penggali kubur diam berkhidmat di bawah pohon.
Saudi pernah merasakan kehusyukan yang sama, beberapa bulan sebelumnya, tatkala ia menjadi penggali kubur mendiang Ani Yudhoyono.
Suasana khidmat prosesi pemakaman itu membuat Saudi keras berpikir tentang foto kedua putrinya bersama BJ Habibie yang hilang. Baginya, kenang-kenangan itu tak boleh hilang.
“Saya lagi nyari foto anak saya sama Eyang Habibie. Sebelum saya gali makam almarhum, anak saya yang pertama sempat nanyain foto sama eyang mana? Ini lagi saya cari, mau dicetak buat kenang-kenangan mereka,” kata Saudi seusai pemakaman.

Sumber : suara.com